Cerita Islami (Akhir Kesia-Siaan)

Cerita Islami (Akhir Kesia-Siaan)

Sejak dua tahun yang lalu aku tinggal di sebuah rumah di mana kami bertetangga dengan seorang tetangga wanita yang sangat cantik dan rupawan. Hatiku begitu menggebu-gebu padanya hingga membuatku tidak sanggup untuk bersabar. Aku terus berusaha untuk masuk ke dalam hatinya dengan berbagai cara, namun aku tak kunjung sampai ke sana.

Hingga aku menemukan sebuah celah dengan janji pernikahan dengannya. Aku berhasil merebut hatinya dan ia pun membuka pintu hatinya. Bahkan lebih dari itu, di hari yang sama bahkan merebut kehormatannya. Dan tidak lama kemudian aku mengetahui bahwa sang gadis itu telah mengandung janinku. Itu membuatku berpikir: apakah aku harus memenuhi janjiku untuk menikahinya atau aku putuskan saja cintanya?

Tapi aku lebih memilih yang kedua. Aku meninggalkan rumah di mana ia biasa mengunjungiku. Dan setelah itu, aku tidak pernah tahu lagi kabar tentangnya sedikit pun…

Bertahun-tahun lamanya kejadian itu berlalu, dan di suatu hari, aku menerima sepucuk surat darinya. Di dalam surat itu, ia menuliskan antara lain:

 “Andai saja aku bermaksud untuk mengulang kembali masa yang telah lalu atau cinta lama, maka aku tidak akan pernah menuliskan sebaris pun bahkan satu huruf pun. Karena aku yakin bahwa janji seperti janjimu yang khianat dan cinta seperti cintamu yang palsu, sama sekali tidak layak membuatku bahagia sehingga aku perlu mengenangnya atau membuatku sedih sehingga aku harus mengulangnya kembali. Sesungguhnya engkau tahu, ketika engkau pergi meninggalkanku di dalam diriku ada api yang sedang menyala dan janin yang sedang bergerak, namun engkau sama sekali memerdulikannya.

Engkau lari meninggalkanku, agar engkau tak menanggung beban moral melihat kedurjanaan yang engkau lakukan, agar engkau tidak membebani dirimu untuk menghapus air mata yang engkau alirkan.

Maka setelah itu semua, apakah aku mampu untuk menganggapmu sebagai seorang pria terhormat?!

Tidak…bahkan untuk menganggapmu sebagai seorang manusia saja aku tidak sanggup, karena tidak ada satu pun watak kebinatangan melainkan engkau kumpulkan dalam dirimu. Intinya engkau hanya memandangku sebagai jalan untuk memuaskan dirimu. Dan ketika engkau melintas di depanku untuk itu, engkau pun melakukannya. Andai bukan karena itu, ia tidak akan pernah mengetuk pintuku dan tidak melihat wajahku.

Engkau mengkhianatiku…sebab engkau telah menjanjikan sebuah pernikahan, namun engkau mengingkarinya dan pergi karena tidak mau menikahi seorang wanita jahat yang tak mempunyai nilai. Padahal kejahatan dan kehinaan itu tidak lain adalah perbuatan tangan dan kejahatanmu sendiri. Seandainya bukan karena engkau, aku tidak akan menjadi seorang wanita jahat dan hina. Aku telah berusaha menolakmu, namun engkau tetap berusaha hingga aku jatuh bagai seorang anak kecil di hadapan orang besar yang sangat kuat.

Engkau telah mencuri kehormatanku…hingga menjadi jiwa yang hina, yang hatinya akan selalu bersedih. Aku merasa betapa beratnya beban kehidupan dan betapa lambatnya kematian datang dalam kehidupanku. Yah, kenikmatan hidup apa lagi yang akan dirasakan oleh seorang wanita yang tidak bisa lagi menjadi seorang istri bagi seorang pria dan menjadi seorang ibu bagi seorang anak? Bahkan tidak mampu lagi untuk hidup dalam masyarakat manusia, kecuali dengan menundukkan kepala, memejamkan mata dan meletakkan tangan di dagunya. Tubuhnya gemetar karena trauma dengan gangguan orang-orang yang suka melecehkan.

Engkau merampas ketenanganku…karena akhirnya akibat peristiwa itu, aku terpaksa harus meninggalkan “istana” di mana dahulu aku menikmati semuanya dalam dekapan ayah dan bundaku. Aku harus meninggalkan semua kelapangan dan kehidupan yang menyenangkan itu menuju rumah yang kecil di sebuah lingkungan yang sangat terpencil. Tidak ada yang mengenalnya. Dan tidak ada yang sudi mengetuk pintunya. Di sana aku menghabiskan sisa-sisa kehidupanku yang kelam.

Engkau telah membunuh ayah dan ibuku…aku hanya tahu bahwa mereka berdua telah meninggal. Dan aku yakin mereka berdua meninggal tidak lain karena sedih telah kehilanganku dan putus asa untuk berjumpa denganku…

Engkau telah membunuhku…karena kehidupan pahit yang kuteguk dari gelas yang engkau sodorkan. Dan kesedihan panjang yang kualami karenamu benar-benar telah mencapai puncaknya dalam diri dan jiwaku. Kini, aku tergolek di atas ranjang kematian bagai seekor lalat yang terbakar, yang nafas demi nafasnya berangsur-angsur sirna.

Maka engkaulah si pendusta dan penipu, pencuri dan pembunuh. Dan aku yakin Allah tidak akan membiarkanmu tanpa mengambil apa yang menjadi hakku darimu.

Aku menulis surat ini padamu bukan untuk memperbaharui kembali janji itu. Aku menulis ini kepadamu bukan karena rindu, karena engkau jauh lebih hina bagiku untuk mendapatkan itu.

aku telah berada di sisi pintu alam kubur, tidak lama lagi mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh kehidupan dunia, yang baik dan buruknya, bahagia dan susahnya. Aku tidak lagi punya harapan tentang cinta. Tidak ada lagi kelapangan waktu untuk memperbaharui janji…

Aku menulis ini untukmu karena aku menyimpan sebuah titipan milikmu. Ia adalah anak gadismu. Maka jika Dzat yang telah menghilangkan rasa kasih dari hatimu itu masih menyisakan kasih seorang bapak dalam dirimu, maka segeralah temui ia dan ambillah ia ke sisimu, agar ia tidak merasakan kemelaratan seperti yang dirasakan ibunya sebelumnya…”

Benar-benar kalimat-kalimat yang sangat menyedihkan…

Sesungguhnya kisah seperti ini dan yang semisalnya adalah hasil dan akibat dari ketidakharmonian yang kita alami, sehingga akibatnya lahirlah problem seperti itu yang membutuhkan pemecahan dalam waktu yang sangat panjang…

Seorang pria berusaha menaklukkan seorang wanita, dan untuk itu ia menyiapkan segala sesuatunya: janji yang dusta, perkataan yang manis dan muslihat yang memikat. Hingga akhirnya, ketika ia telah berhasil mengelabui dan menaklukkannya lalu mengambil hal yang paling berharga yang ia miliki, pria itu pun menepiskan tangannya dan mengucapkan selamat tinggal padanya untuk tidak bertemu kembali selamanya…

Saat itulah, sang wanita itu akan terduduk di sudut rumahnya untuk menangisi dan meratapi nasibnya, berurai air mata yang terus mengalir di pipinya, sembari menyandarkan kepalanya di atas tangan: tidak tahu hendak ke mana? Tak tahu apa yang akan dilalukaan? Dan bagaimana ia harus melewati hidupnya?

Ia berusaha melanjutkan hidupnya melalui jalan pernikahan, namun ia tidak akan menemukan orang yang sudi menikahinya, sebagai kaum pria akan menyebutnya sebagai wanita tak berharga!!

Wahai tuan-tuan yang terhormat…

Sang gadis itu harus membuka hatinya kepada orang-orang sebelum ia kemudian membukanya untuk sang suami, agar ia dapat hidup bersamanya dengan tenang dan bahagia, tidak terbayangi oleh kenangan masa lalu…

Jarang sekali seorang gadis yang memulainya hidupnya dengan petualangan cinta kemudian dapat menikmati sebuah cinta yang mulia lagi terhormat.

Sesungguhnya gadis yang kalian rendahkan dan hinakan itu…yang kalian mempermainkan diri dan jiwanya, dia itu tak lain adalah sosok yang kelak akan menjadi ibu bagi anak-anak kalian, tiang penopang rumah kalian, serta gudang penjagaan harga diri dan kehormatan kalian. Maka perhatikanlah bagaimana kehidupan kalian bersamanya esok, dan bagaimana masa depan anak-anak dan diri kalian ada di tangannya.

Di mana kalian akan menemukan istri-istri yang shalehah di masa datang kehidupan kalian jika kalian merusak para pemudi hari ini…

Dalam iklim apa anak-anak kalian akan hidup dan menghirup semerbak kehidupan yang suci, jika hari ini kalian telah semua udara dan memenuhinya dengan racun dan kotoran.

Kalian jangan heran jika setelah hari ini, kalian tidak mampu lagi mencari istri-istri yang shalehah dan terhormat yang dapat menjaga kehormatan harga diri kalian, yang menjaga kebahagian diri dan rumah kalian. Sebab itu semua adalah akibat kejahatan kalian terhadap diri kalian sendiri, dan buah dari apa yang ditanam oleh tangan-tangan kalian sendiri…

Dan andai kalian menjaga masa lalu kaum wanita itu, maka mereka akan menjaga masa kini dan masa depan kalian…Namun kalian telah merusak mereka. Kalian telah membunuh jiwa mereka, hingga kalian kehilangan mereka saat kalian justru membutuhkannya…

( Buku “Chicken Soup For Muslim”)

Artikel Pusat Buku Sunnah.

Dapatkan buku-buku yang lain yang membahas tentang Adab Islam diantaranya :

 

Akhmad Danardi

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *