Hampir Seperempat Abad Dia Menolak Islam. Di ujung Ajal, Dia Mengucap Syahadat

Pria renta itu terkulai lemah di atas kasur. Terbujur diam, tanpa gerak. Hanya kelopak mata yang sesekali berkedip. Tubuhnya hanya tinggal tulang terbalut kulit yang sudah keriput. Kurus kering.

Sejumlah selang tampak terjulur, menembus hidung dan bagian tubuh lainnya. Dari selang-selang medis itulah kakek renta ini bertahan hidup. Mengasup makanan dan membuangnya setelah lewat pencernaan. Dengan kesadaran yang sudah redup.

Dialah Tuan Green. Kakek sepuh yang tengah meregang nyawa. Pada detik-detik akhir hidup itu, tak tampak sama sekali kegagahan masa jayanya. Tak ada yang menyangka bahwa dia adalah mantan pejabat kolonial Kerajaan Inggris di Kairo, Mesir, dengan jabatan bergengsi: Direktur Cairo Barclays Bank.

Saat sakaratul maut di rumah sakit itulah, Tuan Green kedatangan tamu. Seorang pria yang sudah 23 tahun dibencinya. Abdur Raheem Green. Anak kandung yang telah lama meninggalkan keyakinan keluarga dan memilih Islam sebagai jalan hidupnya.

Tuan Green memang sudah membenci Abdur Raheem sejak 1987. Setelah sang putra mengucap Syahadat. Namun, anak lelakinya itu kini datang di saat-saat terakhir. Di ujung hayat sang ayah.

“Saya memandanginya dan berpikir dia bisa saja meninggal malam itu,” kata Abdur Raheem mengenang masa itu. Kala itu Tuan Green memang sudah dua tahun sakit. Keadaan inilah yang membawa Abdur Raheem jauh-jauh dari London ke Kairo.

Namun, ada ganjalan hati bagi Abdur Raheem untuk mendekati sang ayah. Di benaknya selalu terbersit pertanyaan, apakah sang ayah sudah memaafkan dirinya. Apakah rasa kecewa Tuan Green sudah sirna akibat keputusannya menjadi mualaf.

Perang batin yang sudah berpuluh tahun itu memang rumit. Tuan Green tak pernah setuju Abdur Raheem memeluk Islam. Selama 23 tahun itu, dia terus menolak kebenaran Islam. Kebenciannya semakin menumpuk karena hari demi hari anaknya itu berupaya membujuknya masuk Islam.

Surat, buku-buku, dan bahan apapun tentang Islam yang dikirim Abdur Raheem kepada sang ayah hanya berakhir di tempat sampah. Upaya Abdur Raheem membawa sang ayah ke jalan Islam selama itu gagal total.

“Saya telah lama memikirkan kapan bisa mengajaknya. Bagaimana mengajaknya? Bagaimana cara yang tepat? Sekarang dia sedang sakit parah, saya tak mau menekannya, membuatnya bertambah sedih,” kata Abdur Raheem yang kini berumur 42 tahun itu.

Saat itu Abdur Raheem berpikir, inilah kesempatan terakhir untuk mengulang ajakannya. Pria bernama kecil Anthony Vatswaf Galvin Green itu berpikir tidak akan pernah memaafkan diri jika ayahnya meninggal dan belum memeluk Islam. Inilah tugas terakhirnya.

Namun hati Abdur Raheem tetap gamang. Dia merasa ayahnya telah menutup hati terhadap Islam. Abdur Raheem benar-benar tak punya harapan. “Sungguh saya merasa takut dia berkata tidak, dan menolak ajakan saya,” ucap dia.

Ini sungguh sulit. Abdur Raheem dalam dilema. Sebagai Muslim, orangtuanya belum masuk Islam. Namun satu hal yang dia pegang, dia tak mau memaksa.

“Kewajiban kita menyampaikan pesan, untuk menjelaskan kepada orang lain dengan cara sebaik yang kita bisa,” ujar Abdur Raheem.

Akhirnya, Abdur Raheem kembali mencoba. Dia dekati Green yang tengah terbaring di dipan. “Ayah. Saya punya sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan. Apakah Ayah mendengar?” kata Abdur Raheem mengenang pembicaraan dengan sang ayah kala itu.

Namun, Tuan Green sudah tak lancar berbicara. Kata demi kata keluar dengan terbata. Napasnya sudah tersengal-sengal. Oleh sebab itu, Tuan Green hanya bisa mengangguk. Dan Abdur Raheem melanjutkan, “Saya punya sesuatu untuk saya katakan. Jika tidak saya katakan, saya akan menyesal.”

Berdakwahlah Abdur Raheem di dekat telinga Green. Dengan lembut, putra saleh itu bercerita tentang hari akhir dan hari pembalasan. Di ujung cerita, Abdur Raheem mengucap Syahadat.

“Jadi Ayah, ini kunci ke surga. Ini sukses di hari kemudian, bagaimana menurut Ayah?” tanya dia mengakhiri cerita.

Mendengar cerita itu, Tuan Green terdiam. Namun beberapa saat kemudian menganggukkan kepala. Abdur Raheem pun kembali bertanya, “Apakah itu artinya Ayah bersedia mengucapkan Syahadat?”

Dan sang ayah dengan terbata menjawab tanya Abdur Raheem itu. “Ya.” Inilah yang tidak diduga-duga oleh Abdul Raheem. Rasa bahagia berbuncah di hatinya. Setelah hampir dua puluh tiga tahun gagal, kali ini dia berhasil mengajak ayahnya masuk Islam.

Abdur Raheem langsung membimbing Tuan Green untuk mengucap syahadat. Dengan terbata dan agak kurang jelas, Tuan Green mengikuti kalimat Syahadat yang diucapkan Abdur Raheem. “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah.” Setelah ayahnya mengucap syahadat, Abdul merasa lega. Tapi dia terpaksa meninggalkan rumah sakit karena jam besuk sudah habis.

Hari berikutnya, Abdur Raheem kembali datang. Namun dia menjumpai kondisi sang ayah semakin parah. Green tidak bisa mengingat apa-apa. Jangankan mengingat hari kemarin, kejadian sejam lalu saja dia sudah lupa. “Tapi itu bukan akhir segalanya,” tutur Abdur Raheem.

Pendakwah London ini terus menunggu sang ayah di rumah sakit. Enam hari telah berlalu setelah sang ayah mengucap Syahadat. Namun, kondisi Tuan Green tak kunjung membaik. Abdur Raheem yang tetap setia di samping ranjang mendengar ayahnya merintih. “Tolong, tolong saya,” kata Abdur Raheem menirukan rintih ayahnya.

Abdur Raheem pun panik. Bingung apa yang harus dilakukan. Segala obat-obatan, oksigen, didekatkan ke ranjang. Abdur Raheem pun kembali bertanya, “Ayah, Ayah ingin saya melakukan apa?”.

“Saya tidak tahu,” jawab Tuan Green. “Ajarkan saya sesuatu yang mudah dilakukan,” tambah dia dengan terbata.

Lantas, Abdur Raheem ingat hadis Nabi yang tentang Syahadat. Kalimat yang ringan di lidah namun punya efek luar biasa. “Sehingga saya berkata, jika saya menjadi Ayah, saya akan terus mengulang Syahadat,” kata Abdur Raheem.

Mendengar itu, Tuan Green pun menjawab, “Ya, itu yang ingin saya lakukan.” Setelah itu, bapak dan anak itu bersama-sama mengucap syahadat selama satu setengah jam.

Kondisi Tuan Green kemudian membaik. Abdur Raheem memperkirakan sang ayah bisa segera dibawa pulang ke rumah. Oleh karena itu, dia meningalkan sang ayah bersama ibunya untuk kembali ke Inggris. Sebab, ada urusan yang tak bisa dia tinggalkan.

Namun, beberapa hari kemudian, berita buruk itu datang. Sang ibu menelepon mengabarkan bahwa Tuan Green telah wafat. Tepat sepuluh hari setelah dia pertama mengucap Syahadat.

“Dia meninggal sebagai seorang yang beriman. Silakan berdoa untuk dia,” kata Abdur Raheem.

Namun, Abdur Raheem tak larut dalam kesedihan. Sebab, sang ibu yang semula juga kukuh menolak Islam memutuskan untuk mengucap Syahadat, mengikuti jejak sang ayah.

Ya, Tuan Green yang telah menolak Islam selama hampir seperempat abad itu telah meninggal. Satu hal yang disyukuri Abdur Raheem, ayahnya bersyahadat sepuluh hari sebelum ajalnya tiba.

“Kematian ayah saya ingin saya ceritakan kepada Anda, dan intinya, sepuluh hari sebelum dia meninggal, dia mendapat rahmat mengucapkan Syahadat,” tutur Abdur Raheem.

Tak ada kata terlambat. Itulah yang diucapkan Abdur Raheem. Dia selalu menjadikan pengalaman pribadinya itu setiap kali berdakwah. Bahwa hidayah Allah bisa datang kapan saja. Bahkan ketika maut sudah begitu dekat.

(Kisah-kisah Islam)

Artikel Pusat Buku Sunnah.

Dapatkan buku-buku yang lain yang membahas tentang Kisah Islami diantaranya :

Akhmad Danardi

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *